Ihwal Persoalan Petani dan Perusahaan Sawit, Pemda Boalemo Gelar Rapat Forkopimda

1 min read

Laporan / Editor : Zul Hunowu

Boalemo (BN) – Pemerintah Kabupaten Boalemo menggelar Rapat Forkopimda, berlangsung di Ruang Vicon, Kantor Bupati Boalemo, Rabu (9/10). Rapat yang dipimpin langsung oleh Bupati Boalemo Darwis Moridu. turut dihadiri Wakil Bupati Boalemo, Anas Jusuf, Sekda Boalemo, Ketua DPRD Boalemo, Eka Putra Noho, Kapolres Boalemo, Ketua Pengadilan Tilamuta, Pihak Kodim 1313 Pohuwato, Danlanal, pihak PT Agro Artha Surya, para petani sawit, dan beberapa pejabat dilingkungan pemerintah Kabupaten Boalemo. Rapat tersebut sengaja digelar, guna mencari solusi terkait permasalahan yang melibatkan pihak perusahaan dan petani sawit.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Darwis Moridu menyampaikan agar melalui pertemuan dapat melahirkan solusi atas masalah pembakaran lahan sawit yang dilakukan oleh para petani yang merasa dirugikan dengan janji pihak perusahaan sawit.

“Saya mengharapakan pertemuan hari ini, dapat menghadirkan rekomendasi terbaik tentang persoalan sengketa lahan antara pemilik lahan dan pihak perusahaan,” ungkap Bupati.

Tidak hanya itu, Bupati juga menegaskan kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri dalam menyelesaikan persoalan dengan pihak perusahaan.

“Saya juga menegaskan agar tidak main hakim sendiri, juga mengharapkan kepada camat untuk menyampaikan kepada kepala desa untuk tidak melakukan pembakaran lahan karena saat ini masih musim panas,” tegasnya.

Perwakilan PT Agro Artha Surya, Amir Gani menjelaskan bahwa saat ini pihak perusahaan mengalami kerugian akibat pembakaran lahan sawit yang dilakukan oleh para petani.

“Luas (lahan-red) yang terbakar 288 hektar, total kerugian pembibitan dan pemeliharan total perhektar 60juta,” beber Amir.

Amir menambahkan, bahwa untuk bagi hasil yang dijanjikan dengan para petani memang tidak merata, disebabkan potensi buah yang berbeda setiap wilayah.

“Memang ini adalah lahan mitra dengan pemilik lahan (petani-red), untuk pembagian hasil sudah jalan dari bulan Oktober dan itu per triwulan, pembagian tidak merata karena potensi buah tidak sama hasilnya maka pembayaran bagi hasil berbeda,” jelasnya.

Namun demikian, pernyataan pihak perusahaan tersebut dibantah oleh Baso Esra yang merupakan perwakilan dari para petani. Menurutnya, pernyataan yang disampaikan pihak perusahaan tidaklah benar, sebab lahan yang terbakar mayoritas adalah lahan tidur yang tidak lagi terawat dan tidak ditanami sawit.

“Petani dilaporkan membakar sawit, sawit ini sudah barumput tidak ada perawatan, sudah 280 hektar katanya yang terbakar, sebagian besar dari lahan ini belum ada sawitnya,” tegas Baso.

Baso menbahkan, para petani menginginkan keterbukaan dari pihak perusahaan.

“Kami hanya mengharapkan perushaan terbuka, antara kami dengan perusahaan seperti dinikah tapi tak dinafkahi, kami dibayar Rp. 390.000 perbulan, ini tidak sesuai kesepakatan,” keluh Baso.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Boalemo, Eka Putra Noho dalam kesempatan tersebut, pihaknya selaku representasi rakyat di parlemen, mengaku akan tetap berpihak pada kesejahteraan rakyat, namun tetap berharap pihak perusahaan tetap ada di Kabupaten Boalemo, mengingat para tenaga kerja yang ada di perusahaan tersebut, merupakan warga Boalemo.

“Kami tetap berpihak bagaimana rakyat Boalemo bisa sejahtera, kami menginginkan perusahaan tetap ada di Kabupaten Boalemo,” tutupnya. (#BN)

84 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini